Tips Memilih Sekolah Modeling _-_

Sekolah Model Tak Sekadar Belajar Lenggak-Lenggok

Seorang model adalah public figure yang memiliki skill memadai.

Diantara sekolah-sekolah modeling tersebut ada yang didirikan oleh mantan model cat walk, ada juga yang merupakan cabang dari lembaga pendidikan serupa di luar negeri. Lembaga pendidikan yang memiliki program modeling di Indonesia salah satunya adalah John Robert Powers (JRP).

Sebetulnya, apa yang dimaksud dengan model dan siapa saja yang bisa menggeluti profesi sebagai model. Karena, selama ini kata model seolah identik dengan dunia cat walk. Dan, seorang model itu adalah mereka yang berparas cantik atau tampan dengan postur tubuh yang ideal.

Menurut Indayati Oetomo, international director John Robert Powers (JRP) Indonesia, menyatakan bahwa model adalah sebuah profesi yang harus dilakukan atau dijalani dengan profesional. Sehingga, siapapun yang berminat untuk masuk kedalamnya harus memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadi seorang profesional. Sementara, faktor fisik bukanlah segala-galanya.

”JRP itu sebetulnya adalah sekolah. Sehingga kalau di sekolah itu kita tidak bisa memilih untuk hanya menerima siswa berpostur bagus atau tidak. Karena sebetulnya sekolah modeling itu bukan hanya mempersiapkan siswanya untuk menjadi model di cat walk,”ungkapnya.

Indayati menambahkan bahwa syarat untuk menjadi model tidak terletak pada postur. Melainkan keinginan untuk belajar dan kerja keras. Selain itu, setiap calon model harus tahu bahwa tujuan untuk masuk sekolah model tidak hanya untuk ditampilkan. Karena, tidak semua model itu untuk diekspos. Menurutnya, harus dibedakan antara model dengan seorang entertainer. Model itu sebetulnya sarana atau partnership dari suatu produk. Sehingga, setiap model harus bisa bekerja sama dan mampu mengoptimalkan citra produk yang ditampilkan.

Skill
Untuk itu ia meyakini bahwa untuk menjadi model harus sekolah dulu. Meski seseorang sudah memiliki bakat sekalipun akan lebih baik apabila seseorang tersebut membekali dirinya dengan pendidikan modeling. ” Tidak hanya pada profesi model, pada semua profesi pun harus dilengkapi dengan skill. Karena, kalau hanya punya bakat tapi tidak punya skill maka kita tidak akan bisa manata apa-apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional,”katanya.

Wanita berusia 49 tahun itu menjelaskan bahwa JRP sengaja membuka program modeling untuk mempersiapkan siswa agar menjadi model dan artis bertaraf internasional dalam hal profesionalisme bekerja. Menurut Indayati, seorang awam pun bisa menjadi model. Namun, untuk siap tampil itu tergantung seberapa kuat keinginan dari calon model tersebut. ”Semua bergantung pada kemauan dan kesungguhan untuk belajar. Dan, apabila seseorang mau belajar bersungguh-sungguh dia bisa mengalahkan mereka yang berbakat sekalipun,”tuturnya.

Seni Peran
Ia menambahkan bahwa di JRP siswa-siswa program modeling juga diajarkan seni peran. ”Mungkin postur seseorang itu tidak memadai untuk menjadi model di cat walk. Tetapi, bukan tidak mungkin orang tersebut berbakat untuk menjadi seorang model iklan atau pemain sinetron,”tuturnya. Indayati juga menjelaskan bahwa di JRP siswa program modeling pun bisa diarahkan untuk menjadi orang dibelakang layar. Karena sebetulnya dunia modeling itu luas. Seseorang bisa saja menjadi koreografer, dubber, atau script writer.

Untuk itulah, di JRP para siswa modeling juga dibekali dengan ilmu mengenai bagaimana membuat skrip, bagaimana jadi model di cat walk sampai ke bridal. Bahkan, kelebihan lain dari JRP adalah setiap siswa diberikan bekal dan pendidikan yang berkenaan dengan pengembangan kepribadian. Karena, pada dasarnya JRP merupakan lembaga pendidikan yang menitikberatkan pada pengembangan kepribadian dan komunikasi.

Ia mencontohkan bahwa seorang model di cat walk, harus mampu memberikan nilai lebih dari busana yang dikenakannya. ”Model tersebut harus mampu mengekspresikan setiap pakaian yang dipercayakan kepadanya untuk ditampilkan. Untuk itu, model tersebut terlebih dahulu harus mendapatkan pendidikan pengembangan kepribadian,”ungkapnya. Menurutnya, hal yang sama juga berlaku pada bidang-bidang kerja lain dalam dunia modeling.

Selain itu, menjadi seorang model, berarti harus memiliki kesiapan untuk menjadi public figure. Dan, seorang public figure harus memiliki sikap yang baik. ”JRP selalu menjagarkan siswanya untuk menjadi seorang yang humble (rendah hati). Artinya, apapun yang dicapai itu tidak berarti harus merendahkan orang lain karena orang humble akan selalu menghargai orang lain,”katanya.

Ia menambahkan bahwa beberapa hal yang selalu ditekankan pada siswa-siswa JRP diantaranya adalah bahwa orang yang sukses itu adalah mereka yang memiliki beauty, behaviour, brain and bravely. Sehingga, orang tersebut selalu mampu untuk menatap masa depan. Dan setelah mendapatkan kesuksesan, jangan sampai merasa dirinya paling hebat. Karena, tidak ada orang sukses karena diri sendiri melainkan ditopang banyak orang

Materi lainnya yang tak kalah penting adalah make-up. Dengan memberikan materi bertata rias, berarti JRP itu mengajarkan kemandirian. Dengan demikian, seseorang itu bisa mengukur sendiri tata rias apa yang bagus atau tepat untuk dirinya dan apa yang tidak. Selain itu, dengan belajar tata rias yang baik dan benar, seseorang bisa menyesuaikan riasannya sesuai dengan waktu dan tempat. Namun, Indayati menggarisbawahi bahwa JRP tidak identik dengan kewanitaan. Maksudnya, siapa pun bisa menjadi siswa lembaga pendidikan tersebut. Termasuk, kaum pria.

JRP yang berlokasi di Jl Jendral Sudirman, Jakarta itu, dalam satu tahun memiliki tiga angkatan program modeling. Dimana, lama belajar berkisar antara tiga bulan sampai dengan satu tahun. Untuk satu kelas, terdapat maksimum 15 orang siswa. Program lain yang ada di JRP selain program modeling adalah Personality Development, Public Communication, dan program Eksekutif.

Saat ini, kamu dapat dengan mudah menemukan sekolah modeling. Tak hanya di Jakarta, terkadang sekolah modeling ini pun melakukan promonya hingga ke berbagai daerah. Sekolah-sekolah yang ada saat ini pun bisa dibilang memiliki kualitas yang cukup baik. Sayangnya, tidak sedikit pula penyelenggara sekolah yang nggak kompeten dan hanya ingin meraup uang dari siswa sebanyak-banyaknya tanpa memerhatikan kualitas.

Nah, biar kamu nggak terjerumus ke dalam sekolah modeling yang tidak bertanggung jawab itu, ada baiknya memerhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Perhatikan siapa penyelenggara sekolah itu. Apakah betul mereka memang berkompeten dan berpengalaman di dunia model. Kerap juga terjadi ada sekolah yang mencatut nama model terkenal sebagai anggota pembina sekolah mereka, padahal tokoh yang bersangkutan tak tahu-menahu. Jika si tokoh bahkan tak muncul saat ada open house/presentasi kepada calon siswa dari sekolah itu, kemungkinan besar mereka bohong.
  • Kamu mesti mengetahui jajaran guru di sekolah itu. Guru-guru ini harus berpengalaman dan pernah terjun ke dunia fashion model. Ini sangat penting sehingga dalam mengajar pun mereka akan lebih mengutamakan praktik yang kamu butuhkan daripada sekadar teori dari buku.
  • Ada beberapa sekolah modeling yang memiliki afiliasi dengan agensi atau sekaligus memiliki agensi sendiri. Tentunya ini bisa menjadi akses bagus buatmu untuk menuju bisnis modeling. Jadi afiliasi dengan agen ini bisa menjadi pertimbangan untukmu ketika memilih sekolah model. Tapi, kalaupun mereka nggak menarikmu sebagai talent terpilih, tak perlu kecewa. Yang penting, kejar ilmu sebanyak-banyaknya.

Sumber : gagasmedia.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: